A.
PERBEDAAN
KEBUDAYAAN BARAT DAN KEBUDAYAAN TIMUR
Kebudayaan Barat adalah kebudayaan yang
cara pembinaan kesadarannya dengan cara memahami ilmu pengetahuan dan filsafat.
Mereka melakukan berbagai macam cara diskusi dan debat untuk menemukan atau
menentukan makna seperti apa yang sebenarnya murni/asli dari kesadaran. Mereka
banyak belajar juga mengajar yang awalnya datang dari proses diskusi dan
perdebatan yang mereka lakukan. Melalui proses belajar dan mengajar, para ahli
kebudayaan barat dituntut untuk pandai dalam berceramah dan berdiskusi. Hal itu
dilakukan karena pada akhirnya akan banyak yang mengikuti ajarannya.
Kebudayaan Timur adalah kebudayaan yang
cara pembinaan kesadarannya dengan cara melakukan berbagai macam pelatihan
fisik dan mental. Pelatihan fisik yang mereka jalani dapat dicontohkan dengan
cara menjaga pola makan dan minum ataupun makanan apa saja yang boleh dimakan
dan minuman apa saja yang boleh diminum, karena hal tersebut dapat berpengaruh
kepada pertumbuhan maupun terhadap fisik mereka sendiri. Sedangkan untuk
pelatihan mental yaitu dapat berupa kegiatan yang umumnya/mayoritas dilakukan
sendiri, seperti : bersemedi, bertapa, berdoa, beribadah dan lain sebagainya.
Perbedaan
antara kebudayaan Barat dan kebudayaan Timur, yaitu :
1. Opini/Pendapat
Orang
Timur cenderung berbelit-belit dalam hal beragumen atau menyelesaikan suatu
masalah
yang terjadi, terkadang hanya berputar-putar dulu untuk megatakan sesuatu,
padahal
maksud dan tujuannya tidak serumit yang dimaksudkan. Sangat berbeda dengan
orang
Barat, mereka langsung ke pokok masalah dan mereka tidak biasa untuk berbasa-
basi.
2. Waktu
Orang
Timur terkenal kurang menghargai waktu bila ada janji kadang mereka datang
tidak
tepat
pada waktunya. Berbeda dengan orang Barat mereka begitu sangat menghargai waktu,
sebab mereka paling tidak suka kalau janji tidak pada waktunya.
3. Gaya Hidup
Orang
Timur khususnya Indonesia sangat senang kalau tetap merasa dekat dengan anggota
keluargannya,
kebersamaan yang terjalin yang lebih diutamakan dalam hal ini. Sedangkan,
orang
Barat mereka cenderung hidup secara individualis serta memiliki rasa
sosialisasi
yang
rendah dilingkungan mereka.
4. Hubungan
Karena
orang Timur sangat bersosialisasi atau menjalin hubungan lebih komplek, maka
salah
satu situs jejaring sosial yang sekarang lagi popular lebih banyak diminati
oleh
orang
Timur, khususnya Indonesia sendiri. Berbeda sekali dengan orang Barat mereka
lebih
individualis atau menutup diri dan sangat jarang menjalin hubungan dengan orang
lain.
5. Terhadap Hal yang Baru
Orang Timur kalau ada sesuat/hal yang
baru, belum merasa puas kalu belum sampai
memilikinya, nggak
heran dari kebanyakan orang di Indonesia banyak yang konsumtive,
suka
berganti-ganti barang, tidak merasa puas, ingin lebih dan lebih lagi, hanya
karena
tidak ingin ketinggalan
model. Berbeda dengan orang Barat kalau
ada sesuatu yang baru,
tidak
serta merta pengen tahu dan pengen memiliki atau memakainnya, hanya sekedar
rasaingin
tahu semata.
6. Anak
Dikeluarga
orang Timur terutama di Indonesia, perlakuan orang tua terhadap anak sudah
sangat
memanjakan sehingga anak tidak dapat hidup mandiri sampai usia dewasa pun
anak
tidak bisa lepas dari kedua orangtuannya dan selalu bergantung terhadap mereka,
dengan
harapan keturunan yang mereka manjakan dari kecil bisa hidup langgeng dan
sukses.
Berbeda dengan keluarga orang Barat, anak-anak mereka di didik supaya mandiri
semenjak
kecil sehingga setelah dewasa orang tua pun sudah bisa melepaskannya dan
tidak
bergantung lagi kepada kedua orang tua mereka.
7. Trendi
Jika
orang Barat lebih senang sesuatu yang berbau tradisional atau alami,
kebalikannya
kalau
orang Asia belum disebut trendi kalau tidak bergaya kebarat-baratan, contoh :
orang
Timur
lebih merasa gengsi kalau makan ditempat fast food, padahal dinegara asal
mereka
makanan
tersebut bisa dibilang makanan biasa saja.
8. Masa Tua
Kalau
orang Timur masa tua lebih banyak ngurusin cucu mereka, kalau di Barat tidak
pernah ada namanya
mengasuh seorang cucu. Paling tidak hanya sekedar ketemuan itu
pun
bila merasa rindu saja, karena hidupnya sudah masing-masing.
9. Transportasi atau Kendaraan
Dahulu
orang Barat sewaktu muda lebih menyukai mengendarai mobil, zaman sekarang
lebih
suka memakai sepeda dan ada juga yang lebih suka berjalan kaki, mungkin karena
faktor
kesehatan yang mereka sudah terapkan. Berbeda dengan orang Timur, kalau dulu
maasih
memakai sepeda bahkan berjalan kaki hingga bikilo-kilo meter jauhnya kalau
sekarang
sudah harus pakai mobil kemana-mana biar bisa lebih dilihat mewah oleh
orang lain.
10.
Makanan
Umumnya
orang Barat makan dibagi menjadi 3 yakni makanan pembuka, makanan utama
dan
makanan penutup. Berbeda dengan orang Timur ketiga-tiganya adalah makanan
utama
bagi mereka.
B. Perbedaan Pola Pikir
Orang Asia dan Orang Amerika
Suatu saat saya mendengar pendapat seorang manager ber-warganegara
Amerika bertutur bahwa dia lebih memilih memperkerjakan karyawan yang
berwarganegara Amerika atau Eropa dibandingkan warga negara asia. Terkesan
radikal memang. Tetapi ada baiknya kita tidak langsung berprasangka buruk pada
si manager yang bertutur seperti itu. Pasti ada alasan yang
logis dibalik ucapannya tersebut. Melihat realita, memang orang Amerika dan
Eropa dianggap sebagai orang-orang yangeducated, high class, dan
memiliki integritas yang lebih tinggi dibandingkan orang-orang dari bangsa
lain.
Apakah memang ada perbedaan antara orang Asia dan
orang Amerika ? Jelas ada. Tiap pribadi pasti memiliki sisi positif dan sisi
negatif, sama halnya dengan bangsa Asia dan bangsa Amerika yang memang memiliki
ciri khas dan pola pikir yang berbeda.
Berikut 10 hal perbedaan pola pikir antara
bangsa Asia dan bangsa Amerika :
1. Ukuran sukses bangsa Asia adalah seberapa
banyak materi yang didapatkan oleh personal itu sehingga
dapat menaikkan
prestise atau gengsi semata. Sementara, bangsa Amerika tidak menjadikan materi
sepenuhnya yang menjadi tolak ukur suatu kesusksesan seseorang, tetapi apa yang
dapat personal itu
lakukan untuk mengubah sesuatu menjadi yang lebih baik lagi
(banyaknya inovasi dan terobosan yang
diciptakan).
2. Bangsa Asia lebih cenderung menganggap bahwa
banyak kekayaan lebih penting dari pada cara
mendapatkannya, sehingga anda
tidak perlu kaget bahwa di negara-negara Asia, termasuk Indonesia,
tingkat
korupsinya sangat tinggi. Hal itu terjadi disebabkan karena banyaknya kekayaan
lebih penting dari
pada cara mendapatkannya.
3. Pendidikan di kawasan Asia lebih identik
dengan hafalan, bukan pemahaman. Oleh karena itu, bangsa
Asia terkenal sebagai “Jack
of all trades, but master of none.”Hanya mengetahui sedikit tentang
banyak
hal, tetapi tidak menguasai satu pun. Buktinya adalah, banyak anak-anak muda
dari bangsa Asia
yang sering menjadi pemenang dalam ajang olimpiade fisika,
kimia, biologi, tetapi jarang yang
mendapatkan nobel. Mengapa seperti itu ?
karena pendidikan yang berbasis hafalan tidak akan
menciptakan personal yang creative. Sementara
orang-orang yang meraih nobel adalah orang
yang creative.
4. Orang Asia adalah “penakut”. Penakut dalam
arti, pribadi yang takut kalah dan takut salah. Sifat
eksploratif orang Asia
kurang. Seperti tidak berani mengambil risiko. Tidak ada salahnya mengambil
keputusan dengan risiko yang besar, asalkan kita mampu bertanggung jawab dengan
setiap
konsekuensinya.
5. Bangsa Asia menganggap bahwa orang yang
banyak bertanya adalah orang yang bodoh. Sementara
orang Amerika menganggap
bahwa orang yang banyak bertanya merupakan orang yang
memiliki curious yang
tinggi. Orang yang memiliki curious yang tinggi adalah orang yang
eksploratif,
creative, dan inovatif.
6. Menurut orang Asia bahaya yang mengancam
dalam kehidupan dan carrier-nya datang dari luar.
Sementara orang
Amerika memiliki pola pikir, bahwa bahaya yang mengancam dalam kehidupan
dan carrier-nya
datang dari dalam dirinya sendiri (personal). Bahaya yang ada dalam diri
sendiri itu
memang sering tidak dideteksi. Bahaya itu seperti rasa mudah puas,
tingkat ke- PDan (baca : percaya
diri) yang berlebihan atau juga kekurangan,
keingintahuan yang sedikit, dll.
7. Bangsa Asia tidak suka dikritik. Apalagi
jika yang memberikan kritik adalah junior-nya (notabene yang
lebih muda usianya
ataupun yang lebih rendah jabatannya). Padahal, orang Amerika beranggapan bahwa
kritik akan membangun mereka. Walaupun ada kritik yang bersifat negatif,
seperti merendahkan bahkan
tersirat bahwa “anda tidak mampu”, akan dijadikan
positif oleh orang Amerika.
8. Orang Amerika lebih senang menjadi
personal yang cerdik, sementara orang Asia lebih senang menjadi
personal yang
cerdas. Seringkali orang cerdas lebih sukar mengatasi persoalan
dibandingkan orang
cerdik.
9. Orang Asia menganggap bahwa motivasi diri
itu tidak baik. Motivasi diri ini selalu dikaitkan dengan
kesombongan pribadi
semata, seperti seseorang yang mengatakan bahwa “Saya adalah orang yang
sukses.” Pernyataan itu dianggap pernyataan yang menyombongkan diri bagi orang
Asia. Sementara itu,
orang Amerika menganggap bahwa motivasi diri bukanlah
kesombongan, tetapi sedikit menjadi pacut
yang memacu personal untuk menjadi
seperti pernyataan positif yang personal itu ungkapkan. Boleh
menjadi sombong
tetapi untuk sesuatu yang real, bukang sesuatu yang semu. Kesombongan juga
punya
batas dan aturan.
10. Self management dan Self concept orang
Asia sangat kurang. Orang Amerika sangat ahli
dalam self management dan self
concept. Mereka bisa mengatur diri mereka sendiri dan memahami
seperti
apa pribadi mereka, apa yang mereka inginkan, apa yang harus dicapai, dan apa
yang menjadi
ketidaksukaan mereka. Seharusnya orang Asia memupuk
dirinya lagi dalam self management danself
concept.
Dari paparan diatas, Saya merasa bahwa saya harus
merubah pola pikir saya sebagai orang Asia. Kesalahan pola pikir personal
akan membawa dampak negatif bagi diri sendiri dan juga orang lain. Jadi, ada
baiknya merubah pola pikir ke arah yang lebih positif.
Sebuah studi Sejarah
menjelaskan bahwa penemu benua Amerika adalah Cristopus Columbus-- dalam versi
Islam yang menemukan pertama adalah Al-Idrisi, (Ilmuan Muslim) zaman keemasan
Islam—yang lebih jelasnya Seandaniya Nabii Adam dan Siti Hawa diturunkan
di Benua Asia, maka bisa dikatakan bahwa orang Barat juga merupakan orang Timur
pada zaman dahulunya. Oleh karena itu janganlah kita merasa rendah karna kita
tidak sepintar orang Barat karena pada dasarnya kita mempunyai sejarah
keturunan yang sama. (Diskusi Kelas Harun Rosid, Dosen Sejarah Perkembangan
Islam)
Lalu mengapa banyak terjadi perbedaan? Lingkungan dan latar belakang. Inilah
yang menyebabkan orang Barat Lebih pintar dari orang Timur. Tukas dosen IBD (
Ilmu Budaya Dasar) di salah satu sekolah tinggi di Prabumulih, Sum-sel“ada
beberapa penyebab mengapa orang Barat lebh pintar dari orang Timur, yang
pertama adalah masa lalu, dan yang kedua lingkungan. Bisa dijelaskan
begini. Seajarahnya dahulunya orang Barat , seperti Amerika adalah Salah satu
bangsa yang dijajah oleh Inggris. Berarti ada kemungkinan orang Amerika
tersebut lebih bodoh dari pada orang Inggis, tetapi apa yang membuat mereka
bangkit, adalah sebuah kenyataan. Mereka mengangkat sebuah ide bahwa mereka
harus bangkit dari penderitaan dan menjadi negara yang merdeka, lalu apa
kaitannya dengan kepintaran mereka saat ini? Dari ide inilah yang mereka angkat
menjadi pemikiran untuk lebih maju. Ide bahwa mereka harus mengalami
perubahan, dan buktinya mereka memang mengalami perubahan yang lebih cepat dari
pada orang Timur. Beginilah keadaan mereka yang harus sealalu berubah dan
berani menantang keadaan.
Salah satu studi neurologi (ilmu entang otak/ saraf) yang menjelaskan
bahwa “otak manusia itu bila diasah maka akan meningkatkan kinerja sel-sel yang
ada pada otak itu sendiri dan meningkatkan dalah hitungan quantitas. Lalu apa
hubungannya dengan otak? Jelas inilah kelemahan orang Timur, mereka lebih
memilih bersifat memikirkan hal yang biasa-biasa saja dari pada membuat kepala
pusing. Saya contahkan sedikit saja. Orang Timur apabia makan di sebuah warung
atau restoran dengan makanan yang serba enak, maka mereka biasanya mengatakan “enak
bener ini rasanya” kemudian mereka pulang dan menyerahkan uang kepada kasir dan
tidak memikirkan apa-apa lagi selain pengalaman makan enak di warung atau
restoran tersebut. Tetapi orang Barat bisanya apabila menemui hal tersebut yang
mereka tanyakan adalah, ”Bagaimana Anda bisa membuat hal ini, gimana resepnya” Sejenak
pula ia berpikir pantaskah usaha seperti ini diterapkan dilingkungan saya. Atau
minimal saya bisa membantu teman-taman mengeahui akan hal ini bagi siapa
yang berminat untuk buka usaha seperti ini. Demikianlah yang biasanya
dilakukan oleh Orang Barat.
Di sisi lain ada juga yang harus diperhatikan dari segi ide (pemikiran orang
Timur). Yakni mereka tidak mau dan takut berbeda dari lingkungan sekitar.
Hal ini lah yang telah terbiasa dan diwariskan secara turun temurun kepada
anak-anak mereka.Sebagai contoh lagi nasihat orang tua kepada anak, “ Nak,
jika kamu besar nanti kamu harus bisa jadi seperti orang itu”Biasnya orang tua
menunjuk orang-orang yang dianggap dihormati di masyarakat, seperti orang
kaya,pengusaha,orang-orang berpangkat dan lain-lain. Anaknya pun tumbuh
besar dan ia pun bercita-cita seperti yang ibunya samapaikan padanya. Dan
akhirnya anak pun terkadang berhasil menjadi apa-yang ia cita-citakan
Apkah perubahan yang ia bawa? No, tidak ada hasilnya ia hanyalah orang biasa
yang tidak berbeda jauh dari lingkungannya. Berbeda dari orang Barat, munkin
Anda pernah nonton acara-acara spectacular seperti Replays. Ada
anak yang bisa bermotor pada umur dibawah lima tahun. Karana, memang orang
tuanya menyipakan baginya sesuatu yang berbeda dari lingkunganya. Akhirnya
anaknya bukan hanya disorot oleh lingkungan di sekitarnya, tetapi disorot oleh
seluruh dunia dari berbagai manca negara. Inilah salah satu kelemahan orang
Timur yaitu takut berbeda dari lingkungan.
Hal itu harus kita renungkan semua mengapa hal ini terjadi pada orang Timur
(kita). Dan mencari jawabannya sebanyak dan serelevan mungkin untuk kemudian
kita koreksi di mana kelemahan kita yang harus dan harus diubah secepat mungkin
demi tercapainya negara yang lebih maju.
C. Perbedaan
Budaya Gorontalo & Budaya Bugis
Gorontalo sebagai salah
satu suku yang ada di Pulau Sulawesi memiliki aneka ragam kesenian daerah, baik
tari, lagu, rumah adat, dan pakaian adat.
Tarian
Tarian yang cukup terkenal di daerah ini antara
lain, Tari Bunga, Tari Polopalo, Tari Danadana, Zamrah, dan Tari Langga.
Lagu-lagu
daerah Gorontalo
Lagu-lagu daerah Gorontalo yang cukup dikenal oleh
masyarakat Gorontalo adalah Hulandalo Lipuu (Gorontalo Tempat Kelahiranku),
Ambikoko (nama orang), Mayiledungga (Telah Tiba), Mokarawo (Membuat Kerawang),
Tobulalo Lo Limuto (Di Danau Limboto), dan Binde Biluhuta (Sup Jagung).
Rumah
Adat
Seperti halnya daerah lain di Indonesia, orang
Gorontalo memiliki rumah adatnya sendiri, yang disebut Bandayo Poboide. Rumah
adat ini terletak di tepat di depan Kantor Bupati Gorontalo, Jalan Jenderal
Sudirman, Limboto. Selain itu, masyarakat Gorontalo juga memiliki rumah adat
yang lain, yang disebut Dulohupa, yang terletak di di Kelurahan Limba U2,
Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Rumah adat ini digunakan sebagai tempat
bermusyawarat kerabat kerajaan pada masa lampau.
Dulohupa merupakan
rumah panggung yang terbuat dari papan, dengan bentuk atap khas daerah
Gorontalo. Pada bagian belakang ada ajungan tempat para raja dan kerabat istana
untuk beristirahat atau bersantai sambil melihat kegiatan remaja istana bermain
sepak raga
Rumah adat dengan seluas tanah kurang lebih lima
ratus ini dilengkapi dengan taman bunga , serta bangunan tempat penjualan
sovenir, dan ada sebuah bangunan garasi bendi kerajaan yang bernama Talanggeda.
Pada masa pemerintahan
para raja, rumah adat ini digunakan sebagai ruang pengadilan kerajaan, untuk
memvonis para pengkhianat negara melalui sidang tiga alur pejabat pemerintahan,
yaitu Buwatulo Bala (Alur Pertahanan / Keamanan), Buwatulo Syara (Alur Hukum Agama
Islam), dan Buwatulo Adati (Alur Hukum Adat).
Bahasa
Daerah
Orang Gorontalo menggunakan bahasa Gorontalo, yang
terbagi atas tiga dialek, dialek Gorontalo, dialek Bolango, dan dialek Suwawa.
Saat ini yang paling dominan adalah dialek Gorontalo.Penarikan garis keturunan
yang berlaku di masyarakat Gorontalo adalah bilateral, garis ayah dan ibu.
Seorang anak tidak boleh bergurau dengan ayahnya melainkan harus berlaku taat
dan sopan. Sifat hubungan tersebut berlaku juga terhadap saudara laki-laki ayah
dan ibu.
Menurut masyarakat
Gorontalo, nenek moyang mereka bernama Hulontalangi, artinya ‘pengembara yang
turun dari langit’. Tokoh ini berdiam di Gunung Tilongkabila. Dia menikah
dengan pendatang yang singgah dengan perahu ke tempat itu. Mereka inilah yang
kemudian menurunkan orang Gorontalo. Sebutan Hulontalangi kemudian berubah
menjadi Hulontalo dan akhirnya menjadi Gorontalo.
Tujuh bulanan atau dalam bahasa Gorontalo Tondhalo
Tondhalo ini dilaksanakan pada usia kandungan 7
bulan, dilaksanakan pada pagi hari dan pesta yang meriah dan tentu sangat
berbeda dengan upacara tujuh bulan pada umumnya. Baik si ibu jabang bayi maupun
suami sama sama menggunakan pakaian adat dan menyertakan seorang anak perempuan
kecil yang diusung oleh sang suami berkeliling rumah sebelum masuk kekamar
menjumpai si ibu jabang bayi untuk memutus tali yang melingkar di perut yang
terbuat dari daun kelapa.
Dalam upacara ini disediakan berbagai jenis makanan
yang dihidangkan diatas 7 buah baki, kemudian makanan tersebut dibagi bagikan
kepada para undangan termasuk anak perempuan kecil yang diusung oleh sang suami
calon ayah dari jabang bayi.
Budaya Bugis
Suku Bugis adalah salah satu suku yang berdomisili
di Sulawesi Selatan. Ciri utama kelompok etnik ini adalah bahasa dan
adat-istiadat, sehingga pendatang Melayu dan Minangkabau yang merantau ke
Sulawesi sejak abad ke-15 sebagai tenaga administrasi dan pedagang di Kerajaan
Gowa dan telah terakulturasi, juga bisa dikategorikan sebagai orang Bugis.
Diperkirakan populasi orang Bugis mencapai angka enam juta jiwa. Kini
orang-orang Bugis menyebar pula di berbagai provinsi Indonesia, seperti
Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, Kalimantan Timur, dan Kalimantan
Selatan. Orang Bugis juga banyak yang merantau ke mancanegara seperti di
Malaysia, India, dan Australia.
Suku Bugis adalah suku yang sangat menjunjung tinggi
harga diri dan martabat. Suku ini sangat menghindari tindakan-tindakan yang
mengakibatkan turunnya harga diri atau martabat seseorang. Jika seorang anggota
keluarga melakukan tindakan yang membuat malu keluarga, maka ia akan diusir
atau dibunuh. Namun, adat ini sudah luntur di zaman sekarang ini. Tidak ada
lagi keluarga yang tega membunuh anggota keluarganya hanya karena tidak ingin
menanggung malu dan tentunya melanggar hukum. Sedangkan adat malu masih
dijunjung oleh masyarakat Bugis kebanyakan. Walaupun tidak seketat dulu, tapi
setidaknya masih diingat dan dipatuhi.
Adat
panen:
Mulai dari turun ke
sawah, membajak, sampai tiba waktunya panen raya. Ada upacara appalili sebelum
pembajakan tanah. Ada Appatinro pare atau appabenni ase sebelum bibit padi
disemaikan. Ritual ini juga biasa dilakukan saat menyimpan bibit padi di possi
balla, sebuah tempat khusus terletak di pusat rumah yang ditujukan untuk
menjaga agar tak satu binatang pun lewat di atasnya. Lalu ritual itu dirangkai
dengan massureq, membaca meong palo karallae, salah satu epos Lagaligo tentang
padi. Dan ketika panen tiba digelarlah katto bokko, ritual panen raya yang
biasanya diiringi dengan kelong pare. Setelah melalui rangkaian ritual itu
barulah dilaksanakan Mapadendang. Di Sidrap dan sekitarnya ritual ini dikenal
dengan appadekko, yang berarti adengka ase lolo, kegiatan menumbuk padi muda.
Appadekko dan Mappadendang konon memang berawal dari aktifitas ini.
Bagi komunitas Pakalu,
ritual mappadendang mengingatkan kita pada kosmologi hidup petani pedesaan
sehari-hari. Padi bukan hanya sumber kehidupan. Ia juga makhluk manusia. Ia
berkorban dan berubah wujud menjadi padi. Agar manusia memperoleh sesuatu untuk
dimakan, yang seolah ingin menghidupkan kembali mitos Sangiyang Sri, atau Dewi
Sri di pedesaan Jawa, yang diyakini sebagai dewi padi yang sangat dihormati.
Tapi itu dulu. Ketika
tanah dan padi masih menjadi sumber kehidupan yang mesti dihormati dan
diagungkan. Sebelum akhirnya bertani menjadi sarana bisnis dan proyek
peningkatan surplus produksi ekonomi nasional.
Sekadar mengingat
kembali lebih dari 30 tahunan yang silam, pemerintah melancarkan program
intensifikasi pertanian di desa-desa, yang dikenal dengan revolusi hijau dalam
pembangunan pertanian. Program itu, di awal tahun 1970-an, populer dengan nama
Bimas Padi Sawah. Nyaris tak ada satu jengkal pun lahan pertanian yang
terhindar dari proyek berorientasi swasembada dan bisnis pertanian ini. Segala
cara dilakukan para penyuluh dan pegawai Bimas, melalui ancaman maupun paksaan,
agar para petani menjalankan program bimas. Kelompok-kelompok petani dibentuk.
Modernisasi sistem pertanian dilancarkan. Hingga pengenalan varietas baru yang
disebut-sebut sebagai ‘bibit unggul’ itu wajib ditanam.
Sejak saat itu pare
riolo yang biasa disemai para petani ini mulai jarang ditanam. Dan digantikan
dengan varietas ‘unggul’ padi sawah. Seperti padi Shinta, Dara, Remaja, yang
merupakan produk persilangan yang dikeluarkan Lembaga Pusat Pertanian (LP-3)
Bogor. Atau varietas unggul baru macam IR-5 dan IR-8 yang dikenal dengan PB-5
dan PB-8 yang hasil rekayasa Rice Researce Institute (IRRI). Teknik baru berupa
mesin-mesin traktor juga menggantikan sistem pengolahan tanah yang mengandalkan
tenaga sapi atau kerbau.
Seiring dengan
modernisasi sistem pertanian dan orientasi pada aktifitas peningkatan “income”
dan produksi nasional. Akhirnya ritual-ritual bercocok tanam yang rutin
digelar, lambat laun mulai hilang. Lantaran sistem pertanian pendukung ritual
itu semakin ditinggalkan. Tak ada lagi memanen dengan ani-ani. Tak ada lagi
katto bokko. Tidak pula kelong pare dan mappadendang. Bersamaan dengan itu
tiada lagi penghargaan terhadap sumber kehidupan. Praktek menanam tidak
berurusan dengan anugerah Sangiyang Sri seperti yang diyakini selama ini. Tapi
soal bagaimana produk pertanian dapat mengejar target produksi nasional yang
diharapkan para penyuluh pertanian.
Mapadendang itu tradisi
menumbuk padi. Dulu merontokkan padi itu dengan menumbuk. Sekarang sudah pakai
mesin giling. Makanya mapadendang pun semakin jarang dilakukan. Padahal dalam
ritual itulah rasa kebersamaan para petani muncul. Bahkan mappadendang menjadi
tempat pertemuan muda-mudi yang ingin mencari pasangan hidup. Dalam ritual itu
setiap pasangan mulai saling mengenal calon pasangannya, memperhatikan sikap
dan tingkah lakunya.
Kini penghargaan
terhadap padi sebagai sumber kehidupan sudah pudar. Orang-orang sekarang hanya
berpikir bagaimana bibit itu bisa cepat tumbuh dan cepat panen. Meski demikian,
tidak berarti program pembangunan pertanian masa pemerintahan Suharto yang
berhasil mengubah kultur masyarakat pedesaan ini tanpa menuai reaksi dan
protes. Di Sidrap, misalnya. Puluhan petani enggan beralih bibit padi baru. Di
Kindang yang masuk wilayah Bulukumba, seorang petani bernama Karaeng Haji
menantang seorang penyuluh pertanian yang mendatanginya. Cerita yang dituturkan
Massewali ini justeru membuktikan hasil panen Karaeng Haji jauh lebih besar
ketimbang hasil panen yang dijanjikan para penyuluh pertanian dari Bimas. Di
banyak tempat di Sulawesi Selatan, khususnya di daerah-daerah pertanian,
kasus-kasus serupa tak sedikit jumlahnya.
Alasannya pun
bermacam-macam. Dikatakan, misalnya varietas bibit baru unggulan itu
kenyataannya cuma unggul sekali panen atau paling banter dua kali panen. Adapun
untuk masa tanam berikutnya mereka harus mengganti bibit dengan cara membeli
bibit baru melalui unit koperasi yang masih dijalankan secara ‘top-dawn’ pula.
Tentu saja ini menyulitkan para petani yang harus bergonta-ganti bibit baru
setiap musim tanam.
Respon yang lain juga
diperlihatkan oleh komunitas Pakalu. Seperti dituturkan Mustari dan Halima, mereka
menerima varietas bibit baru untuk sebagian persawahan mereka. Di pihak lain
mereka juga tidak meninggalkan varietas padi lama yang lebih terbukti hasilnya.
Dengan cara itu selain memperoleh hasil produksi yang melimpah, mereka pun
masih bisa menjalani mappadendang. Ritual yang menjadi bagian dari penghayatan
hidup mereka sehari-hari.
Di Kabupaten Sidrap
dewasa ini, tradisi mappadendang digelar dengan acara makan bersama di balai
desa yang dihadiri oleh tetua-tetua, pemuka adat, pemuka agama, tokoh masyarakat,
dan semua petani-petani. Acara ini dimaksudkan untuk mensyukuri hasil panen
mereka. Mereka mensyukuri rejeki yang dilimpahkan oleh Allah SWT kepada mereka.
Adat
pernikahan:
Pernikahan
yang kemudian dilanjutkan dengan pesta perkawinan merupakan hal yang
membahagiakan bagi semua orang terutama bagi keluarga dan orang-orang di
sekitarnya. Di Sulawesi Selatan terdapat banyak adat perkawinan sesuai dengan
suku dan kepercayaan masyarakat. Bagi orang Bugis-Makassar,
pernikahan/perkawinan diawali dengan proses melamar atau “Assuro” (Makassar)
dan “Madduta” (Bugis). Jika lamaran diterima, dilanjutkan dengan proses membawa
uang lamaran dari pihak pria yang akan dipakai untuk acara pesta perkawinan
oleh pihak wanita ini disebut dengan “Mappenre dui” (bugis) atau “Appanai leko
caddi” (Makassar). Pada saat mengantar uang lamaran kemudian ditetapkan hari
baik untuk acara pesta perkawinan yang merupakan kesepakatan kedua belah pihak.
Sehari sebelum hari “H” berlangsung acara “malam pacar” mappaci (bugis) atau “akkorontigi”
(Makassar), calon pengantin baik pria maupun wanita (biasanya sdh mengenakan
pakaian adat daerah masing-masing) duduk bersila menunggu keluarga atau kerabat
lainnya datang mengoleskan daun pacar ke tangan mereka sambil diiringi
do’a-do’a untuk kebahagiaan mereka. Keesokan harinya (Hari “H”), para kerabat
datang untuk membantu mempersiapkan acara pesta mulai dari lokasi, dekoasi,
konsumsi, transportasi dan hal-hal lainnya demi kelancaran acara. Pengantin
pria diberangkatkan dari rumahnya (Mappenre Botting = Bugis / Appanai leko
lompo = Makassar) diiringi oleh kerabat dalam pakaian pengantin lengkap dengan
barang seserahan ‘erang-erang’ menuju rumah mempelai wanita. Setibanya di rumah
mempelai wanita, pernikahanpun dilangsungkan, mempelai pria mengucapkan ijab
kabul dihadapan penghulu disaksikan oleh keluarga dan kerabat lainnya. Setelah
proses pernikahan selesai, para pengantar dipersilakan menikmati hidangan yang
telah dipersiapkan. Selanjutnya, para pengantar pulang dan mempelai pria tetap
di rumah mempelai wanita untuk menerima tamu-tamu yang datang untuk mengucapkan
selamat dan menyaksikan acara pesta perkawinan. Pada acara pesta perkawinan
biasanya meriah karena diiringan oleh hiburan organ tunggal atau kesenian
daerah lainnya. Keesokan harinya, sepasang pengantin selanjutnya diantar ke
rumah mempelai pria dengan iring-iringan yang tak kalah meriahnya. Selanjutnya,
rumah mempelai pria berlangsung acara yang sama, bahasa Bugis disebut
‘mapparola’.
Sumber : Tim Redaksi Driyarkara. 1993. Jelajah Hakikat Pemikiran Timur. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar