Rabu, 04 Desember 2013

A. PERBEDAAN KEBUDAYAAN BARAT DAN KEBUDAYAAN TIMUR

A. PERBEDAAN KEBUDAYAAN BARAT DAN KEBUDAYAAN TIMUR

Kebudayaan Barat adalah kebudayaan yang cara pembinaan kesadarannya dengan cara memahami ilmu pengetahuan dan filsafat. Mereka melakukan berbagai macam cara diskusi dan debat untuk menemukan atau menentukan makna seperti apa yang sebenarnya murni/asli dari kesadaran. Mereka banyak belajar juga mengajar yang awalnya datang dari proses diskusi dan perdebatan yang mereka lakukan. Melalui proses belajar dan mengajar, para ahli kebudayaan barat dituntut untuk pandai dalam berceramah dan berdiskusi. Hal itu dilakukan karena pada akhirnya akan banyak yang mengikuti ajarannya.

Kebudayaan Timur adalah kebudayaan yang cara pembinaan kesadarannya dengan cara melakukan berbagai macam pelatihan fisik dan mental. Pelatihan fisik yang mereka jalani dapat dicontohkan dengan cara menjaga pola makan dan minum ataupun makanan apa saja yang boleh dimakan dan minuman apa saja yang boleh diminum, karena hal tersebut dapat berpengaruh kepada pertumbuhan maupun terhadap fisik mereka sendiri. Sedangkan untuk pelatihan mental yaitu dapat berupa kegiatan yang umumnya/mayoritas dilakukan sendiri, seperti : bersemedi, bertapa, berdoa, beribadah dan lain sebagainya.

Perbedaan antara kebudayaan Barat dan kebudayaan Timur, yaitu :


1.  Opini/Pendapat
     Orang Timur cenderung berbelit-belit dalam hal beragumen atau menyelesaikan suatu  
     masalah yang terjadi, terkadang hanya berputar-putar dulu untuk megatakan sesuatu,  
     padahal maksud dan tujuannya tidak serumit yang dimaksudkan. Sangat berbeda dengan
     orang Barat, mereka langsung ke pokok masalah dan mereka tidak biasa untuk berbasa-

     basi.  

2.  Waktu
     Orang Timur terkenal kurang menghargai waktu bila ada janji kadang mereka datang tidak
     tepat pada waktunya. Berbeda dengan orang Barat mereka begitu sangat menghargai waktu, sebab              mereka paling tidak suka kalau janji tidak pada waktunya.


3.  Gaya Hidup
     Orang Timur khususnya Indonesia sangat senang kalau tetap merasa dekat dengan anggota  
     keluargannya, kebersamaan yang terjalin yang lebih diutamakan dalam hal ini. Sedangkan,
     orang Barat mereka cenderung hidup secara individualis serta memiliki rasa sosialisasi
     yang rendah dilingkungan mereka. 

4.   Hubungan
      Karena orang Timur sangat bersosialisasi atau menjalin hubungan lebih komplek, maka  
      salah satu situs jejaring sosial yang sekarang lagi popular lebih banyak diminati oleh  
      orang Timur, khususnya Indonesia sendiri. Berbeda sekali dengan orang Barat mereka  
      lebih individualis atau menutup diri dan sangat jarang menjalin hubungan dengan orang      

      lain.
 
5.   Terhadap Hal yang Baru
      Orang Timur kalau ada sesuat/hal yang baru, belum merasa puas kalu belum sampai  
       memilikinya, nggak heran dari kebanyakan orang di Indonesia banyak yang konsumtive,
      suka berganti-ganti barang, tidak merasa puas, ingin lebih dan lebih lagi, hanya karena
       tidak ingin ketinggalan model. Berbeda dengan orang Barat kalau ada sesuatu yang baru,
      tidak serta merta pengen tahu dan pengen memiliki atau memakainnya, hanya sekedar  

      rasaingin tahu semata.

 6.   Anak
       Dikeluarga orang Timur terutama di Indonesia, perlakuan orang tua terhadap anak sudah
       sangat memanjakan sehingga anak tidak dapat hidup mandiri sampai usia dewasa pun
       anak tidak bisa lepas dari kedua orangtuannya dan selalu bergantung terhadap mereka,
       dengan harapan keturunan yang mereka manjakan dari kecil bisa hidup langgeng dan
       sukses. Berbeda dengan keluarga orang Barat, anak-anak mereka di didik supaya mandiri
       semenjak kecil sehingga setelah dewasa orang tua pun sudah bisa melepaskannya dan

       tidak bergantung lagi kepada kedua orang tua mereka.

 7.  Trendi
      Jika orang Barat lebih senang sesuatu yang berbau tradisional atau alami, kebalikannya
      kalau orang Asia belum disebut trendi kalau tidak bergaya kebarat-baratan, contoh : orang
      Timur lebih merasa gengsi kalau makan ditempat fast food, padahal dinegara asal mereka    

      makanan tersebut bisa dibilang makanan biasa saja.

8.   Masa Tua
      Kalau orang Timur masa tua lebih banyak ngurusin cucu mereka, kalau di Barat tidak
      pernah ada namanya mengasuh seorang cucu. Paling tidak hanya sekedar ketemuan itu
      pun bila merasa rindu saja, karena hidupnya sudah masing-masing.

9.   Transportasi atau Kendaraan
      Dahulu orang Barat sewaktu muda lebih menyukai mengendarai mobil, zaman sekarang
      lebih suka memakai sepeda dan ada juga yang lebih suka berjalan kaki, mungkin karena
      faktor kesehatan yang mereka sudah terapkan. Berbeda dengan orang Timur, kalau dulu
      maasih memakai sepeda bahkan berjalan kaki hingga bikilo-kilo meter jauhnya kalau  
      sekarang sudah harus pakai mobil kemana-mana biar bisa lebih dilihat mewah oleh  
      orang lain.

10. Makanan
      Umumnya orang Barat makan dibagi menjadi 3 yakni makanan pembuka, makanan utama   
     dan makanan penutup. Berbeda dengan orang Timur ketiga-tiganya adalah makanan
     utama bagi mereka.

B. Perbedaan Pola Pikir Orang Asia dan Orang Amerika

         Suatu saat saya mendengar pendapat seorang manager ber-warganegara Amerika bertutur bahwa dia lebih memilih memperkerjakan karyawan yang berwarganegara Amerika atau Eropa dibandingkan warga negara asia. Terkesan radikal memang. Tetapi ada baiknya kita tidak langsung berprasangka buruk pada si manager yang bertutur seperti itu. Pasti ada alasan yang logis dibalik ucapannya tersebut. Melihat realita, memang orang Amerika dan Eropa dianggap sebagai orang-orang yangeducated, high class, dan memiliki integritas yang lebih tinggi dibandingkan orang-orang dari bangsa lain.

         Apakah memang ada perbedaan antara orang Asia dan orang Amerika ? Jelas ada. Tiap pribadi pasti memiliki sisi positif dan sisi negatif, sama halnya dengan bangsa Asia dan bangsa Amerika yang memang memiliki ciri khas dan pola pikir yang berbeda.
Berikut 10  hal perbedaan pola pikir antara bangsa Asia dan bangsa Amerika :
1. Ukuran sukses bangsa Asia adalah seberapa banyak materi yang didapatkan oleh personal itu sehingga 
    dapat menaikkan prestise atau gengsi semata. Sementara, bangsa Amerika tidak menjadikan materi 
    sepenuhnya yang menjadi tolak ukur suatu kesusksesan seseorang, tetapi apa yang dapat personal itu 
    lakukan untuk mengubah sesuatu menjadi yang lebih baik lagi (banyaknya inovasi dan terobosan yang 
    diciptakan).

2. Bangsa Asia lebih cenderung menganggap bahwa banyak kekayaan lebih penting dari pada cara 
    mendapatkannya, sehingga anda tidak perlu kaget bahwa di negara-negara Asia, termasuk Indonesia, 
    tingkat korupsinya sangat tinggi. Hal itu terjadi disebabkan karena banyaknya kekayaan lebih penting dari 
    pada cara mendapatkannya.

3. Pendidikan di kawasan Asia lebih identik dengan hafalan, bukan pemahaman. Oleh karena itu, bangsa 
    Asia terkenal sebagai “Jack of all trades, but master of none.”Hanya mengetahui sedikit tentang 
    banyak hal, tetapi tidak menguasai satu pun. Buktinya adalah, banyak anak-anak muda dari bangsa Asia 
    yang sering menjadi pemenang dalam ajang olimpiade fisika, kimia, biologi, tetapi jarang yang 
    mendapatkan nobel. Mengapa seperti itu ? karena pendidikan yang berbasis hafalan tidak akan 
    menciptakan personal yang creative. Sementara orang-orang yang meraih nobel adalah orang 
    yang creative.

4. Orang Asia adalah “penakut”. Penakut dalam arti, pribadi yang takut kalah dan takut salah. Sifat 
    eksploratif orang Asia kurang. Seperti tidak berani mengambil risiko. Tidak ada salahnya mengambil 
    keputusan dengan risiko yang besar, asalkan kita mampu bertanggung jawab dengan setiap 
    konsekuensinya.

5. Bangsa Asia menganggap bahwa orang yang banyak bertanya adalah orang yang bodoh. Sementara 
    orang Amerika menganggap bahwa orang yang banyak bertanya merupakan orang yang 
    memiliki curious yang tinggi.  Orang yang memiliki curious yang tinggi adalah orang yang eksploratif, 
    creative, dan inovatif.

6. Menurut orang Asia bahaya yang mengancam dalam kehidupan dan carrier-nya datang dari luar.        
    Sementara orang Amerika memiliki pola pikir, bahwa bahaya yang mengancam dalam kehidupan 
    dan carrier-nya datang dari dalam dirinya sendiri (personal).  Bahaya yang ada dalam diri sendiri itu 
    memang sering tidak dideteksi. Bahaya itu seperti rasa mudah puas, tingkat ke- PDan (baca : percaya     
    diri) yang berlebihan atau juga kekurangan, keingintahuan yang sedikit, dll.

7. Bangsa Asia tidak suka dikritik. Apalagi jika yang memberikan kritik adalah junior-nya (notabene yang 
    lebih muda usianya ataupun yang lebih rendah jabatannya). Padahal, orang Amerika beranggapan bahwa 
    kritik akan membangun mereka. Walaupun ada kritik yang bersifat negatif, seperti merendahkan bahkan 
    tersirat bahwa “anda tidak mampu”, akan dijadikan positif oleh orang Amerika.

8. Orang Amerika lebih senang menjadi personal yang cerdik, sementara orang Asia lebih senang menjadi 
    personal yang cerdas.  Seringkali orang cerdas lebih sukar mengatasi persoalan dibandingkan orang 
    cerdik.

9. Orang Asia menganggap bahwa motivasi diri itu tidak baik. Motivasi diri ini selalu dikaitkan dengan 
    kesombongan pribadi semata, seperti seseorang yang mengatakan bahwa “Saya adalah orang yang 
    sukses.” Pernyataan itu dianggap pernyataan yang menyombongkan diri bagi orang Asia. Sementara itu, 
    orang Amerika menganggap bahwa motivasi diri bukanlah kesombongan, tetapi sedikit menjadi pacut 
    yang memacu personal untuk menjadi seperti pernyataan positif yang personal itu ungkapkan. Boleh 
    menjadi sombong tetapi untuk sesuatu yang real, bukang sesuatu yang semu. Kesombongan juga punya 
    batas dan aturan.

10. Self management dan Self concept orang Asia sangat kurang. Orang Amerika sangat ahli 
      dalam self management dan self concept. Mereka bisa mengatur diri mereka sendiri dan memahami 
      seperti apa pribadi mereka, apa yang mereka inginkan, apa yang harus dicapai, dan apa yang menjadi 
      ketidaksukaan mereka.  Seharusnya orang Asia memupuk dirinya lagi dalam self management danself 
      concept.

            Dari paparan diatas, Saya merasa bahwa saya harus merubah pola pikir saya sebagai orang Asia.  Kesalahan pola pikir personal akan membawa dampak negatif bagi diri sendiri dan juga orang lain. Jadi, ada baiknya merubah pola pikir ke arah yang lebih positif.

Sebuah studi Sejarah menjelaskan bahwa penemu benua Amerika adalah Cristopus Columbus-- dalam versi Islam yang menemukan pertama adalah Al-Idrisi, (Ilmuan Muslim) zaman keemasan Islam—yang  lebih jelasnya Seandaniya Nabii Adam dan Siti Hawa diturunkan di Benua Asia, maka bisa dikatakan bahwa orang Barat juga merupakan orang Timur pada zaman dahulunya. Oleh karena itu janganlah kita merasa rendah karna kita tidak sepintar orang Barat karena pada dasarnya kita mempunyai sejarah keturunan yang sama. (Diskusi Kelas Harun Rosid, Dosen Sejarah Perkembangan Islam)
             
            Lalu mengapa banyak terjadi perbedaan? Lingkungan dan latar belakang. Inilah yang menyebabkan orang Barat Lebih pintar dari orang Timur. Tukas dosen IBD ( Ilmu Budaya Dasar) di salah satu sekolah tinggi di Prabumulih, Sum-sel“ada beberapa penyebab mengapa orang Barat lebh pintar dari orang Timur, yang pertama adalah masa lalu, dan yang kedua lingkungan.  Bisa dijelaskan begini. Seajarahnya dahulunya orang Barat , seperti Amerika adalah Salah satu bangsa yang dijajah oleh Inggris. Berarti ada kemungkinan orang Amerika tersebut lebih bodoh dari pada orang Inggis, tetapi apa yang membuat mereka bangkit, adalah sebuah kenyataan. Mereka mengangkat sebuah ide bahwa mereka harus bangkit dari penderitaan dan menjadi negara yang merdeka, lalu apa kaitannya dengan kepintaran mereka saat ini? Dari ide inilah yang mereka angkat menjadi  pemikiran untuk lebih maju. Ide bahwa mereka harus mengalami perubahan, dan buktinya mereka memang mengalami perubahan yang lebih cepat dari pada orang Timur. Beginilah keadaan mereka yang harus sealalu berubah dan berani menantang keadaan.

             Salah satu studi neurologi (ilmu entang otak/ saraf) yang menjelaskan bahwa “otak manusia itu bila diasah maka akan meningkatkan kinerja sel-sel yang ada pada otak itu sendiri dan meningkatkan dalah hitungan quantitas. Lalu apa hubungannya dengan otak? Jelas inilah kelemahan orang Timur, mereka lebih memilih bersifat memikirkan hal yang biasa-biasa saja dari pada membuat kepala pusing. Saya contahkan sedikit saja. Orang Timur apabia makan di sebuah warung atau restoran dengan makanan yang serba enak, maka mereka biasanya mengatakan “enak bener ini rasanya” kemudian mereka pulang dan menyerahkan uang kepada kasir dan tidak memikirkan apa-apa lagi selain pengalaman makan enak di warung atau restoran tersebut. Tetapi orang Barat bisanya apabila menemui hal tersebut yang mereka tanyakan adalah, ”Bagaimana Anda bisa membuat hal ini, gimana resepnya” Sejenak pula ia berpikir pantaskah usaha seperti ini diterapkan dilingkungan saya. Atau minimal saya bisa membantu teman-taman mengeahui akan hal ini bagi siapa yang  berminat untuk buka usaha seperti ini. Demikianlah yang biasanya dilakukan oleh Orang Barat.
             
             Di sisi lain ada juga yang harus diperhatikan dari segi ide (pemikiran orang Timur). Yakni mereka tidak mau dan takut berbeda dari lingkungan sekitar.  Hal ini lah yang telah terbiasa dan diwariskan secara turun temurun kepada anak-anak mereka.Sebagai contoh lagi nasihat orang tua kepada anak, “ Nak, jika kamu besar nanti kamu harus bisa jadi seperti orang itu”Biasnya orang tua menunjuk orang-orang yang dianggap dihormati di masyarakat, seperti orang kaya,pengusaha,orang-orang berpangkat  dan lain-lain. Anaknya pun tumbuh besar dan ia pun bercita-cita seperti yang ibunya samapaikan padanya. Dan akhirnya anak pun terkadang berhasil menjadi apa-yang ia cita-citakan  Apkah perubahan yang ia bawa? No, tidak ada hasilnya ia hanyalah orang biasa yang tidak berbeda jauh dari lingkungannya. Berbeda dari orang Barat, munkin Anda pernah nonton acara-acara spectacular seperti Replays.  Ada anak yang bisa bermotor pada umur dibawah lima tahun. Karana, memang orang tuanya menyipakan baginya sesuatu yang berbeda dari lingkunganya. Akhirnya anaknya bukan hanya disorot oleh lingkungan di sekitarnya, tetapi disorot oleh seluruh dunia dari berbagai manca negara. Inilah salah satu kelemahan orang Timur yaitu takut berbeda dari lingkungan.

             Hal itu harus kita renungkan semua mengapa hal ini terjadi pada orang Timur (kita). Dan mencari jawabannya sebanyak dan serelevan mungkin untuk kemudian kita koreksi di mana kelemahan kita yang harus dan harus diubah secepat mungkin demi tercapainya negara  yang lebih maju.

C. Perbedaan Budaya Gorontalo & Budaya Bugis
     
       Gorontalo sebagai salah satu suku yang ada di Pulau Sulawesi memiliki aneka ragam kesenian daerah, baik tari, lagu, rumah adat, dan pakaian adat.

Tarian

       Tarian yang cukup terkenal di daerah ini antara lain, Tari Bunga, Tari Polopalo, Tari Danadana, Zamrah, dan Tari Langga.

Lagu-lagu daerah Gorontalo
Lagu-lagu daerah Gorontalo yang cukup dikenal oleh masyarakat Gorontalo adalah Hulandalo Lipuu (Gorontalo Tempat Kelahiranku), Ambikoko (nama orang), Mayiledungga (Telah Tiba), Mokarawo (Membuat Kerawang), Tobulalo Lo Limuto (Di Danau Limboto), dan Binde Biluhuta (Sup Jagung).

Rumah Adat

           Seperti halnya daerah lain di Indonesia, orang Gorontalo memiliki rumah adatnya sendiri, yang disebut Bandayo Poboide. Rumah adat ini terletak di tepat di depan Kantor Bupati Gorontalo, Jalan Jenderal Sudirman, Limboto. Selain itu, masyarakat Gorontalo juga memiliki rumah adat yang lain, yang disebut Dulohupa, yang terletak di di Kelurahan Limba U2, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Rumah adat ini digunakan sebagai tempat bermusyawarat kerabat kerajaan pada masa lampau.
Dulohupa merupakan rumah panggung yang terbuat dari papan, dengan bentuk atap khas daerah Gorontalo. Pada bagian belakang ada ajungan tempat para raja dan kerabat istana untuk beristirahat atau bersantai sambil melihat kegiatan remaja istana bermain sepak raga
Rumah adat dengan seluas tanah kurang lebih lima ratus ini dilengkapi dengan taman bunga , serta bangunan tempat penjualan sovenir, dan ada sebuah bangunan garasi bendi kerajaan yang bernama Talanggeda.
Pada masa pemerintahan para raja, rumah adat ini digunakan sebagai ruang pengadilan kerajaan, untuk memvonis para pengkhianat negara melalui sidang tiga alur pejabat pemerintahan, yaitu Buwatulo Bala (Alur Pertahanan / Keamanan), Buwatulo Syara (Alur Hukum Agama Islam), dan Buwatulo Adati (Alur Hukum Adat).

Bahasa Daerah

           Orang Gorontalo menggunakan bahasa Gorontalo, yang terbagi atas tiga dialek, dialek Gorontalo, dialek Bolango, dan dialek Suwawa. Saat ini yang paling dominan adalah dialek Gorontalo.Penarikan garis keturunan yang berlaku di masyarakat Gorontalo adalah bilateral, garis ayah dan ibu. Seorang anak tidak boleh bergurau dengan ayahnya melainkan harus berlaku taat dan sopan. Sifat hubungan tersebut berlaku juga terhadap saudara laki-laki ayah dan ibu.

Menurut masyarakat Gorontalo, nenek moyang mereka bernama Hulontalangi, artinya ‘pengembara yang turun dari langit’. Tokoh ini berdiam di Gunung Tilongkabila. Dia menikah dengan pendatang yang singgah dengan perahu ke tempat itu. Mereka inilah yang kemudian menurunkan orang Gorontalo. Sebutan Hulontalangi kemudian berubah menjadi Hulontalo dan akhirnya menjadi Gorontalo.
Tujuh bulanan atau dalam bahasa Gorontalo Tondhalo
Tondhalo ini dilaksanakan pada usia kandungan 7 bulan, dilaksanakan pada pagi hari dan pesta yang meriah dan tentu sangat berbeda dengan upacara tujuh bulan pada umumnya. Baik si ibu jabang bayi maupun suami sama sama menggunakan pakaian adat dan menyertakan seorang anak perempuan kecil yang diusung oleh sang suami berkeliling rumah sebelum masuk kekamar menjumpai si ibu jabang bayi untuk memutus tali yang melingkar di perut yang terbuat dari daun kelapa.
Dalam upacara ini disediakan berbagai jenis makanan yang dihidangkan diatas 7 buah baki, kemudian makanan tersebut dibagi bagikan kepada para undangan termasuk anak perempuan kecil yang diusung oleh sang suami calon ayah dari jabang bayi.

Budaya Bugis

        Suku Bugis adalah salah satu suku yang berdomisili di Sulawesi Selatan. Ciri utama kelompok etnik ini adalah bahasa dan adat-istiadat, sehingga pendatang Melayu dan Minangkabau yang merantau ke Sulawesi sejak abad ke-15 sebagai tenaga administrasi dan pedagang di Kerajaan Gowa dan telah terakulturasi, juga bisa dikategorikan sebagai orang Bugis. Diperkirakan populasi orang Bugis mencapai angka enam juta jiwa. Kini orang-orang Bugis menyebar pula di berbagai provinsi Indonesia, seperti Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Orang Bugis juga banyak yang merantau ke mancanegara seperti di Malaysia, India, dan Australia.
    Suku Bugis adalah suku yang sangat menjunjung tinggi harga diri dan martabat. Suku ini sangat menghindari tindakan-tindakan yang mengakibatkan turunnya harga diri atau martabat seseorang. Jika seorang anggota keluarga melakukan tindakan yang membuat malu keluarga, maka ia akan diusir atau dibunuh. Namun, adat ini sudah luntur di zaman sekarang ini. Tidak ada lagi keluarga yang tega membunuh anggota keluarganya hanya karena tidak ingin menanggung malu dan tentunya melanggar hukum. Sedangkan adat malu masih dijunjung oleh masyarakat Bugis kebanyakan. Walaupun tidak seketat dulu, tapi setidaknya masih diingat dan dipatuhi.

Adat panen:
Mulai dari turun ke sawah, membajak, sampai tiba waktunya panen raya. Ada upacara appalili sebelum pembajakan tanah. Ada Appatinro pare atau appabenni ase sebelum bibit padi disemaikan. Ritual ini juga biasa dilakukan saat menyimpan bibit padi di possi balla, sebuah tempat khusus terletak di pusat rumah yang ditujukan untuk menjaga agar tak satu binatang pun lewat di atasnya. Lalu ritual itu dirangkai dengan massureq, membaca meong palo karallae, salah satu epos Lagaligo tentang padi. Dan ketika panen tiba digelarlah katto bokko, ritual panen raya yang biasanya diiringi dengan kelong pare. Setelah melalui rangkaian ritual itu barulah dilaksanakan Mapadendang. Di Sidrap dan sekitarnya ritual ini dikenal dengan appadekko, yang berarti adengka ase lolo, kegiatan menumbuk padi muda. Appadekko dan Mappadendang konon memang berawal dari aktifitas ini.
Bagi komunitas Pakalu, ritual mappadendang mengingatkan kita pada kosmologi hidup petani pedesaan sehari-hari. Padi bukan hanya sumber kehidupan. Ia juga makhluk manusia. Ia berkorban dan berubah wujud menjadi padi. Agar manusia memperoleh sesuatu untuk dimakan, yang seolah ingin menghidupkan kembali mitos Sangiyang Sri, atau Dewi Sri di pedesaan Jawa, yang diyakini sebagai dewi padi yang sangat dihormati.
Tapi itu dulu. Ketika tanah dan padi masih menjadi sumber kehidupan yang mesti dihormati dan diagungkan. Sebelum akhirnya bertani menjadi sarana bisnis dan proyek peningkatan surplus produksi ekonomi nasional.
Sekadar mengingat kembali lebih dari 30 tahunan yang silam, pemerintah melancarkan program intensifikasi pertanian di desa-desa, yang dikenal dengan revolusi hijau dalam pembangunan pertanian. Program itu, di awal tahun 1970-an, populer dengan nama Bimas Padi Sawah. Nyaris tak ada satu jengkal pun lahan pertanian yang terhindar dari proyek berorientasi swasembada dan bisnis pertanian ini. Segala cara dilakukan para penyuluh dan pegawai Bimas, melalui ancaman maupun paksaan, agar para petani menjalankan program bimas. Kelompok-kelompok petani dibentuk. Modernisasi sistem pertanian dilancarkan. Hingga pengenalan varietas baru yang disebut-sebut sebagai ‘bibit unggul’ itu wajib ditanam.
Sejak saat itu pare riolo yang biasa disemai para petani ini mulai jarang ditanam. Dan digantikan dengan varietas ‘unggul’ padi sawah. Seperti padi Shinta, Dara, Remaja, yang merupakan produk persilangan yang dikeluarkan Lembaga Pusat Pertanian (LP-3) Bogor. Atau varietas unggul baru macam IR-5 dan IR-8 yang dikenal dengan PB-5 dan PB-8 yang hasil rekayasa Rice Researce Institute (IRRI). Teknik baru berupa mesin-mesin traktor juga menggantikan sistem pengolahan tanah yang mengandalkan tenaga sapi atau kerbau.
Seiring dengan modernisasi sistem pertanian dan orientasi pada aktifitas peningkatan “income” dan produksi nasional. Akhirnya ritual-ritual bercocok tanam yang rutin digelar, lambat laun mulai hilang. Lantaran sistem pertanian pendukung ritual itu semakin ditinggalkan. Tak ada lagi memanen dengan ani-ani. Tak ada lagi katto bokko. Tidak pula kelong pare dan mappadendang. Bersamaan dengan itu tiada lagi penghargaan terhadap sumber kehidupan. Praktek menanam tidak berurusan dengan anugerah Sangiyang Sri seperti yang diyakini selama ini. Tapi soal bagaimana produk pertanian dapat mengejar target produksi nasional yang diharapkan para penyuluh pertanian.
Mapadendang itu tradisi menumbuk padi. Dulu merontokkan padi itu dengan menumbuk. Sekarang sudah pakai mesin giling. Makanya mapadendang pun semakin jarang dilakukan. Padahal dalam ritual itulah rasa kebersamaan para petani muncul. Bahkan mappadendang menjadi tempat pertemuan muda-mudi yang ingin mencari pasangan hidup. Dalam ritual itu setiap pasangan mulai saling mengenal calon pasangannya, memperhatikan sikap dan tingkah lakunya.
Kini penghargaan terhadap padi sebagai sumber kehidupan sudah pudar. Orang-orang sekarang hanya berpikir bagaimana bibit itu bisa cepat tumbuh dan cepat panen. Meski demikian, tidak berarti program pembangunan pertanian masa pemerintahan Suharto yang berhasil mengubah kultur masyarakat pedesaan ini tanpa menuai reaksi dan protes. Di Sidrap, misalnya. Puluhan petani enggan beralih bibit padi baru. Di Kindang yang masuk wilayah Bulukumba, seorang petani bernama Karaeng Haji menantang seorang penyuluh pertanian yang mendatanginya. Cerita yang dituturkan Massewali ini justeru membuktikan hasil panen Karaeng Haji jauh lebih besar ketimbang hasil panen yang dijanjikan para penyuluh pertanian dari Bimas. Di banyak tempat di Sulawesi Selatan, khususnya di daerah-daerah pertanian, kasus-kasus serupa tak sedikit jumlahnya.
Alasannya pun bermacam-macam. Dikatakan, misalnya varietas bibit baru unggulan itu kenyataannya cuma unggul sekali panen atau paling banter dua kali panen. Adapun untuk masa tanam berikutnya mereka harus mengganti bibit dengan cara membeli bibit baru melalui unit koperasi yang masih dijalankan secara ‘top-dawn’ pula. Tentu saja ini menyulitkan para petani yang harus bergonta-ganti bibit baru setiap musim tanam.
Respon yang lain juga diperlihatkan oleh komunitas Pakalu. Seperti dituturkan Mustari dan Halima, mereka menerima varietas bibit baru untuk sebagian persawahan mereka. Di pihak lain mereka juga tidak meninggalkan varietas padi lama yang lebih terbukti hasilnya. Dengan cara itu selain memperoleh hasil produksi yang melimpah, mereka pun masih bisa menjalani mappadendang. Ritual yang menjadi bagian dari penghayatan hidup mereka sehari-hari.
Di Kabupaten Sidrap dewasa ini, tradisi mappadendang digelar dengan acara makan bersama di balai desa yang dihadiri oleh tetua-tetua, pemuka adat, pemuka agama, tokoh masyarakat, dan semua petani-petani. Acara ini dimaksudkan untuk mensyukuri hasil panen mereka. Mereka mensyukuri rejeki yang dilimpahkan oleh Allah SWT kepada mereka.

Adat pernikahan:
Pernikahan yang kemudian dilanjutkan dengan pesta perkawinan merupakan hal yang membahagiakan bagi semua orang terutama bagi keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Di Sulawesi Selatan terdapat banyak adat perkawinan sesuai dengan suku dan kepercayaan masyarakat. Bagi orang Bugis-Makassar, pernikahan/perkawinan diawali dengan proses melamar atau “Assuro” (Makassar) dan “Madduta” (Bugis). Jika lamaran diterima, dilanjutkan dengan proses membawa uang lamaran dari pihak pria yang akan dipakai untuk acara pesta perkawinan oleh pihak wanita ini disebut dengan “Mappenre dui” (bugis) atau “Appanai leko caddi” (Makassar). Pada saat mengantar uang lamaran kemudian ditetapkan hari baik untuk acara pesta perkawinan yang merupakan kesepakatan kedua belah pihak. Sehari sebelum hari “H” berlangsung acara “malam pacar” mappaci (bugis) atau “akkorontigi” (Makassar), calon pengantin baik pria maupun wanita (biasanya sdh mengenakan pakaian adat daerah masing-masing) duduk bersila menunggu keluarga atau kerabat lainnya datang mengoleskan daun pacar ke tangan mereka sambil diiringi do’a-do’a untuk kebahagiaan mereka. Keesokan harinya (Hari “H”), para kerabat datang untuk membantu mempersiapkan acara pesta mulai dari lokasi, dekoasi, konsumsi, transportasi dan hal-hal lainnya demi kelancaran acara. Pengantin pria diberangkatkan dari rumahnya (Mappenre Botting = Bugis / Appanai leko lompo = Makassar) diiringi oleh kerabat dalam pakaian pengantin lengkap dengan barang seserahan ‘erang-erang’ menuju rumah mempelai wanita. Setibanya di rumah mempelai wanita, pernikahanpun dilangsungkan, mempelai pria mengucapkan ijab kabul dihadapan penghulu disaksikan oleh keluarga dan kerabat lainnya. Setelah proses pernikahan selesai, para pengantar dipersilakan menikmati hidangan yang telah dipersiapkan. Selanjutnya, para pengantar pulang dan mempelai pria tetap di rumah mempelai wanita untuk menerima tamu-tamu yang datang untuk mengucapkan selamat dan menyaksikan acara pesta perkawinan. Pada acara pesta perkawinan biasanya meriah karena diiringan oleh hiburan organ tunggal atau kesenian daerah lainnya. Keesokan harinya, sepasang pengantin selanjutnya diantar ke rumah mempelai pria dengan iring-iringan yang tak kalah meriahnya. Selanjutnya, rumah mempelai pria berlangsung acara yang sama, bahasa Bugis disebut ‘mapparola’.


 Sumber : Tim Redaksi Driyarkara. 1993. Jelajah Hakikat Pemikiran Timur. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 
               serikat-dan-eropa/
               508996.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar